Sabtu, 01 Februari 2014

Filled Under: ,

TARI MUNG DHE, BUDAYA YANG (TAK) MEMBUDAYA

01.40






 
 

INDONESIA. Negara yang tak diragukan lagi akan kekayaan budaya dan juga keseniannya. Namun, tidak sedikit pula orang terlebih kawula remaja yang tidak mengetahui budaya daerahnya sendiri, apalagi melestarikannya secara langsung. Banyak di antara mereka yang terbawa oleh arus budaya dari luar. Mengikuti arus perkembangan zaman sekarang memang boleh, bahkan diharuskan. Toh,itu pun demi kemajuan kita bersama. Namun apabila sampai meninggalkan kebudayaan kita sediri, sama halnya dengan kita tak menghargai apa yang kita miliki.

Kali ini saya ingin memperkenalkan kepada Anda salah satu kesenian dari daerah saya yaitu dari Nganjuk, tepatnya di Desa Termas Kecamatan Patianrowo Kabupaten Nganjuk. Kesenian tari Mung Dhe, begitulah disebutnya. Tidak banyak orang memang yang mengetahui kesenian tari yang satu ini, untuk itu saya ingin menunjukkannya kepada Anda.

Sedikit cerita tentang sejarah tari Mung Dhe. Kesenian tari ini sangat erat kaitannya dengan peristiwa besar yang terjadi di Jawa Tengah pada awal abad ke-19, yaitu peristiwa Perang Diponegoro 1825 – 1830 di bawah pimpinan Sentot Prawirjo. Perjuangan melawan bangsa kolonial Belanda di Jawa Tengah waktu itu mendapat kegagalan. Pengikut Diponegoro tercerai-berai dan tersebar di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Setelah kalah perang, para prajurit Diponegoro terpencar, ibaratnya sebagai buronan, mereka selalu diawasi oleh bangsa Belanda. Para prajurit yang masih tersisa berupaya menyusun benteng kekuatan. Namun upaya itu tidak berani dilakukan secara terang-terangan, melainkan melalui penyamaran yaitu dengan berpura-pura menari dan mengamen keliling. Dan dari sinilah kesenian tari yang sekarang dikenal dengan sebutan tari Mung Dhe tersebut tercipta.

Pada awalnya kesenian ini diciptakan oleh sisa-sisa Prajurit Diponegoro yang menetap di Desa Termas Kecamatan Patianrowo. Kesenian ini diciptakan bersama-sama oleh 14 orang yang kesemuanya masih ada hubungan keluarga. Ke-14 orang itu diantaranya Kasan Tarwi, Dulsalam, Kasan War, Kasan Taswut, Mat Khasim, Suto, Samido, Rakhim, Mat Ngali, Mat Ikhsan, Mat Tasrib, Baderi Mustari dan Soedjak. Dan antara percaya dan tidak ternyata nama-nama yang tercantum tersebut ternyata saya masih memiliki garis keturunan dengan salah satu diantara mereka, yaitu Kasan Tarwi, denan nama aslinya Kasan Taruno Pawiro. Ia ialah kakek buyut saya. Sangat kaget karena saya merupakan keturunan berdarah seni, padahal orang tua maupun saudara saya tidak ada yang memiliki kemampuan di bidang seni. Kecuali kakak saya yang masih ada darah seni di bidang seni lukis kaligrafi.


Tari ini bertemakan perjuangan yang menggambarkan tentang sosok prajurit dengan kegagahannya, dan keperwiraannya yang tangkas bersenjata. Karena tari ini bertemakan kepahlawanan dan cinta tanah air , heroik patriotisme, sehingga gerakan tari di ambilkan dari gerakan keprajuritan dan bela diri (silat). Penciptaan kesenian ini dimaksudkan untuk mengumpulkan prajurit Diponegoro yang tersebar di berbagai daerah. Cara seperti ini mereka tempuh untuk mengelabui Belanda yang selalu mengikuti dan mengintai ke mana sisa-sisa prajurit Diponegoro berada. Penyamaran mereka ternyata tidak diendus oleh Belanda. Belanda tidak mengetahui kalau para anggota kesenian Mung Dhe adalah prajurit yang sedang berlatih baris-berbaris dan latihan perang.


Pimpinan prajurit menyamar dengan menggunakan topeng untuk menutup wajahnya sambil memainkan gerakan-gerakan lucu sebagai Penthul dan Tembem. Untuk mengumpulkan, sang ketua atau sang komandan memukul instrumen gamelan yang disebut dengan penitir dan yang menghasilkan bunyi mung, dipukul sebanyak tiga kali. Ketentuannya, mung pertama sebagai tanda persiapan, mung kedua tanda berkumpul, dan mung ketiga mulai bermain sedangkan bunyi dhe dihasilkan dari alat pengereng (pengiring) yang bernama Bendhe (kempul kecil).

Pada dasarnya, cerita tari mung dhe menggambarkan tari prajurit yang sedang berlatih perang yang lengkap dengan orang yang membantu dan memberi semangat kepada kedua belah pihak yang sedang latihan . Pihak yang membantu dan memberi semangat , di sebut botoh . Botohnya ada dua ,yaitu penthul untuk pihak yang menang dan tembem untuk pihak yang kalah. Sikap dan tingkah laku kedua botoh ini gecul atau lucu, sehingga membuat orang lain yang menyaksikan tari Mung Dhe, terkesan tegang dan kadang merasa geli, karena yang berlatih perang memakai pedang, sedangkan botohnya lucu .

Kesenian ini kemudian keliling dan mengamen dari satu tempat ke tempat lainnya. Tak ayal, kesenian ini kemudian menjadi tontonan rakyat yang digemari dan berkembang dengan pesat.

Secara keseluruhan, tari Mung Dhe melibatkan 14 pemain dengan masing-masing peran pada awalnya, yaitu :
  • 2 orang berperan sebagi penari /prajurit
  • 2 orang berperan sebagi pembawa bendera
  • 2 orang berperan sebagai botoh
  • 8 orang berperan sebagai penabuh /pengiring

Pada perkembanganya sekarang hanya melibatkan 12 orang, yaitu 6 alat untuk 6 orang pemain.

Di dalam pengaturan organisasi tari Mung Dhe untuk penarinya adalah laki-laki serta perempuan dan dalam tingkatan usia dewasa [baik yang menikah atau yang belum]. Pada perkembangan sekarang ini, tari Mung Dhe sering ditampilkan pada acara-acara yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Daerah Kabupaten Nganjuk, seperti Pemilihan Duta Wisata, maupun Grebeg Suro, maupun Jamasan Pusaka, serta saat Upacara Wisuda (gembyangan-red) Waranggono.


Sumber terkait :

http://jawatimuran.wordpress.com/2013/06/10/kesenian-atau-tari-mung-dhe-kabupaten-nganjuk/

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut